Beberapa Kesalahan dalam Perencanaan dan Pelaksanaan Terkait Pemilihan Material

Posted on

Sebenarnya urgensi masalah pendalaman material ini bukan baru dimulai pada masa pelaksanaan konstruksi, melainkan dimulai sejak masa perencanaan. Konsultan perencana yang profesional hendaknya sudah concern pada detail teknis material, dan tidak berhenti pada aspek visual saja. Karena keberhasilan perencanaan tidak hanya berhenti di atas kertas, melainkan bagaimana hasil perencanaan (yang tercermin dalam RKS) mampu memandu pelaksanaan konstruksi di lapangan. Dan pihak kontraktor dan konsultan MK pun harus mampu mempertajam panduan dari desain perencana, sebagai pertanggungjawaban teknis pelaksanaan di lapangan. Dalam konteks tersebut, saya pernah menemui beberapa realitas yang menunjukkan concern yang kurang optimal terhadap aspek material dan metode aplikasinya. Saya akan menyampaikan realitas tersebut pada point-point sebagai berikut :

  1. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) hanya dibaca sebagai acuan penggunaan jenis dan merk material saja. Padahal yang tidak kalah penting, RKS juga memuat metode pelaksanaan pekerjaan dan aplikasi material yang tercantum pada RKS tersebut.
  2. Karena itu, konsultan perencana tidak boleh asal-asalan dalam membuatĀ  RKS. Tapi kenyataannya saya pernah menemui penyebutan jenis material yang “aneh”. Waktu itu, pada proyek di Kalimantan, tapi disebutkan bahwa untuk pasir pasang menggunakan pasir Muntilan (Jawa Tengah). Saya yakin, tentu konsultan perencana tidak bermaksud menentukan penggunaan pasir pasang dari pulau seberang. Ini pasti semata karena copy paste yang terlewat dari control check akhir sebelum diserahkan ke pemberi tugas.
  3. Sebaliknya, kontraktor pun juga tidak boleh asal menuliskan approval material secara dangkal, hanya mengambil merk dari yang tercantum di RKS, tanpa memperdetail tipe dan spesifikasinya. Misalnya untuk penggunaan handle pintu, RKS hanya menyebutkan merk Dekkson saja, maka kontraktor harus mempertajam pada tipe dan spesifikasinya. Karena tipe handle pada merk Dekkson itu ada puluhan. Tentu pemilihan jenis dan tipe handle harus sesuai dengan spek dan fungsinya.
  4. Saya juga pernah membaca spesifikasi hardware pintu yang tidak sesuai dengan jenis pintunya. Pada RKS tersebut disebutkan bahwa pintu dan jendela menggunakan material aluminium ekstrusi, tapi tipe hardwarenya disebutkan menggunakan hardware yang sebetulnya diperuntukkan untuk pintu jendela kayu. Dalam hal ini disebutkan adanya penggunaan spring knife dan ramskar. Mestinya yang benar adalah casement handle (rambuncis) dan casement stay. Dalam hal ini, yang terjadi adalah kurangnya pengenalan terhadap beragam tipe hardware aluminium.
  5. Kejadian selanjutnya adalah penyebutan merk setara, yang sebetulnya tidak setara. Jadi waktu itu disebutkan merk cat ICI, Mowilex, Catylac atau yang setara. ICI adalah nama produsen cat. Dan Mowilex juga nama produsen cat. ICI mengeluarkan produk cat premium bermerk Dulux Weathershield (untuk cat luar) dan Pentalite (untuk cat dalam). Dan untuk yang produk regularnya bermerk Catylac (ada eksterior dan interior). Sedangkan Mowilex mengeluarkan produk premium dengan merk Mowilex Weathercoat (untuk cat luar) dan Mowilex Emulsion (untuk cat dalam). Dan untuk produk regularnya bermerk Cendana. Jadi membandingkan Mowilex dengan Catylac tentu tidak sebanding. Seharusnya Dulux dengan Mowilex dan Catylac dengan Cendana. Di sini pendalaman yang diperlukan adalah grade-grade suatu produk yang dikeluarka oleh suatu pabrikan.
  6. Satu lagi yang masih dialami oleh beberapa konsultan perencana. Yaitu tentang penggunaan gypsum board. Memang benar bahwa produsen gypsum board mengeluarkan dua produk standar dengan ketebalan 9mm dan 12mm. Tapi perlu dicatat bahwa pemilihan ketebalan itu memiliki konsekuansi, yaitu pada jarak rangka plafond yang digunakan. Jika menggunakan gyspum tebal 9mm, maka jarak rangka furring channel adalah 450mm. Sedangkan jika menggunakan gyspum tebal 12mm, maka jarak furring channel adalah 600mm. Tapi yang saya lihat, jarak rangka dianggap sama, yaitu menggunakan gypsum tebal 9mm, tapi jarak rangka furring channelnya 600mm.

Itulah kesalahan-kesalahan yang sering terjadi terkait penentuan spesifikasi dan spesifikasi material, baik karena penyusunan RKS yang terburu-buru atau pun karena kurangnya pemahaman terhadap tipe dan spesifikasi material secara lebih detail. Karena itu, tujuan postingan-postingan terkait katalog material di blog ini sebenarnya adalah dalam rangka memberikan pemahaman terhadap masalah ini.

 

Farid Wadjdi
Founder & admin blog Katalog Material

Leave a Reply